Rabu, 21 Agustus 2013

Anak kecil itu bernama Fani



Jiwa enterpreneur. Kita bisa menyebutnya dengan nama itu untuk menggambarkan minat seorang anak SD di sebuah kawasan kaki Gunung Rinjani, lebih tepatnya di salah satu objek pariwisata Lombok Timur, Desa Tetebatu. Dengan bermodalkan uang Rp 10.000,00 anak tersebut mencoba berjualan makanan ringan dalam kemasan undian. 

Tak ada gerobak, apalagi kios, Fani, nama anak yang berjualan, menjajakan dagangannya dengan membawa dua buah kantung plastik dengan ukuran berbeda. satu kantung plastik yang lebih besar dipakai untuk membawa makanan ringan atau snack yang akan dijadikan hadiah, sementara satu kantung plastik kecil digunakan untuk membungkus kertas kecil yang telah dipilin dimana di dalamnya telah dituliskan nomor hadiah yang bisa didapatkan ketika membeli. Pembelinya adalah teman-temannya yang berada di sekitar tempat tinggalnya, tak hanya anak-anak, orang dewasa pun tertarik untuk ikutan membeli.

Harga jual tiap kertas undian adalah Rp 500,00, dimana setiap pembeli akan selalu mendapatkan hadiah barang berupa snack atau makanan ringan, sehingga dalam hal ini tak ada yang merasa dirugikan, meskipun terkadang pembeli mendapatkan hadiah dengan harga yang lebih rendah dari uang yang dikeluarkan untuk membeli. Meski begitu pembeli, terutama anak-anak selalu terlihat riang saat menerima hadiah yang didapatkan dari undian tersebut.
Setiap hari, kertas undian yang dijual Fani selalu habis terjual. Konsep berjualan yang dipakai memang sederhana tetapi bermakna, mungkin itulah yang menjadi salah satu faktor penyebab lakunya barang dagangan Fani. Konsepnya sederhana, “setiap orang senang mendapat hadiah!” Itulah yang mungkin terpikir oleh Fani, sehingga menjalani kegiatan berjualan ini meski tidak diakukan secara rutin.

Fani adalah seorang anak yang masih duduk di bangku SD. Sehari-hari tinggal bersama neneknya, sementara ibunya pergi ke Jakarta sebagai pembantu rumah tangga, dan ayahnya bekerja di Pulau Sumbawa dengan profesi yang kurang jelas. Fani hanya bisa bertemu orang tuanya saat bulan Ramadhan dan beberapa hari setelahnya, karena setelah itu kedua orang tuanya akan kembali bekerja di tempat kerja masing-masing. Namun, hal itu tak mengalang Fani untuk tumbuh menjadi anak yang baik.

Untuk seorang anak yang masih duduk dibangku SD, kegiatan yang dilakuan oleh Fani tergolong kreatif dan mandiri, karena anak-anak lain yang seusia dengannya bahkan yang lebih besar darinya lebih memilih tidur atau menghabiskan waktunya untuk bermain-main daripada melakukan kegiatan kreatif seperti yang dilakukan oeh Fani. Oleh karena itu, pemerintah, terutama pemerintah desa Tetebatu Selatan seharusnya memberikan perhatian pada Fani, dan anak-anak lainnya yang penuh dengan kreatifitas, karena sebenarnya setiap anak itu cerdas, mereka hanya menunggu dukungan.