Jiwa
enterpreneur. Kita bisa menyebutnya dengan nama itu untuk menggambarkan minat
seorang anak SD di sebuah kawasan kaki Gunung Rinjani, lebih tepatnya di salah
satu objek pariwisata Lombok Timur, Desa Tetebatu. Dengan bermodalkan uang Rp
10.000,00 anak tersebut mencoba berjualan makanan ringan dalam kemasan undian.
Tak ada
gerobak, apalagi kios, Fani, nama anak yang berjualan, menjajakan dagangannya
dengan membawa dua buah kantung plastik dengan ukuran berbeda. satu kantung
plastik yang lebih besar dipakai untuk membawa makanan ringan atau snack yang
akan dijadikan hadiah, sementara satu kantung plastik kecil digunakan untuk
membungkus kertas kecil yang telah dipilin dimana di dalamnya telah dituliskan
nomor hadiah yang bisa didapatkan ketika membeli. Pembelinya adalah
teman-temannya yang berada di sekitar tempat tinggalnya, tak hanya anak-anak,
orang dewasa pun tertarik untuk ikutan membeli.
Harga jual
tiap kertas undian adalah Rp 500,00, dimana setiap pembeli akan selalu
mendapatkan hadiah barang berupa snack atau makanan ringan, sehingga dalam hal
ini tak ada yang merasa dirugikan, meskipun terkadang pembeli mendapatkan
hadiah dengan harga yang lebih rendah dari uang yang dikeluarkan untuk membeli.
Meski begitu pembeli, terutama anak-anak selalu terlihat riang saat menerima
hadiah yang didapatkan dari undian tersebut.
Setiap hari,
kertas undian yang dijual Fani selalu habis terjual. Konsep berjualan yang
dipakai memang sederhana tetapi bermakna, mungkin itulah yang menjadi salah
satu faktor penyebab lakunya barang dagangan Fani. Konsepnya sederhana, “setiap orang senang mendapat hadiah!” Itulah
yang mungkin terpikir oleh Fani, sehingga menjalani kegiatan berjualan ini
meski tidak diakukan secara rutin.
Fani adalah
seorang anak yang masih duduk di bangku SD. Sehari-hari tinggal bersama
neneknya, sementara ibunya pergi ke Jakarta sebagai pembantu rumah tangga, dan
ayahnya bekerja di Pulau Sumbawa dengan profesi yang kurang jelas. Fani hanya
bisa bertemu orang tuanya saat bulan Ramadhan dan beberapa hari setelahnya,
karena setelah itu kedua orang tuanya akan kembali bekerja di tempat kerja
masing-masing. Namun, hal itu tak mengalang Fani untuk tumbuh menjadi anak yang
baik.
Untuk
seorang anak yang masih duduk dibangku SD, kegiatan yang dilakuan oleh Fani
tergolong kreatif dan mandiri, karena anak-anak lain yang seusia dengannya
bahkan yang lebih besar darinya lebih memilih tidur atau menghabiskan waktunya
untuk bermain-main daripada melakukan kegiatan kreatif seperti yang dilakukan
oeh Fani. Oleh karena itu, pemerintah, terutama pemerintah desa Tetebatu
Selatan seharusnya memberikan perhatian pada Fani, dan anak-anak lainnya yang
penuh dengan kreatifitas, karena sebenarnya setiap anak itu cerdas, mereka
hanya menunggu dukungan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar