Minggu, 04 Januari 2015

Catatan di Awal Tahun 2015


"Mendungnya langit di awal tahun bukan menjadi alasan untuk mendungnya hati. Mengapa harus menanti cahaya mentari jika cahaya itu sebenarnya ada di dalam diri kita?"

Pagi itu, aku bersama beberapa orang kawan berharap melihat senyum mentari pertama di tahun 2015. Tempat yang paling tepat untuk dikunjungi adalah pantai sebelah timur pulau kami, pulau yang terkenal dengan angka 1.000 nya dan khas dengan makanan pedasnya. 

Namun, senyum itu tak kunjung hadir, senyum dari sang mentari. Ada apa gerangan? Mengapa pagi itu ia tak tersenyum kepada kami? Tentu saja ia hadir, tetapi dengan wajah muram. Mengapa? Apakah ia turut bersedih dengan nasib rakyat Indonesia akhir-akhir ini? Rakyat yang terpaksa mengencangkan ikat pinggangnya dikarenakan kebijakan anti rakyat yang harus mereka terima tanpa bisa komplain? Apalagi ada kabar bahwa tahun ini tarif dasar listrik akan dinaikkan. Dan kau tahu sendiri kawan bagaimana efek dari kenaikan tarif itu!

Dan mungkin juga mentari sedang bersedih karena menyaksikan orang-orang yang seharusnya kritis dan menggunakan pisau analisisnya untuk membela rakyat, memilih diam dan fokus pada titik yang tak mereka mengerti? Bagaimana bisa mengerti, ingin tahu saja tidak, bahkan tak sedikit dari orang-orang itu mengatakan "Itu bukan urusanku". 

Maka di tahun ini aku berharap kawan-kawan benar-benar menjalankan komitmen yang telah di buat di malam tahun baru, yang menjadi titik awal kebangkitan kembali semangat perjuangan yang sempat memudar, mengibarkan kembali bendera perlawanan terhadap semua musuh, terutama musuh yang ada di dalam diri. Menyalakan kembali cahaya hati sehingga tampak jelas mana yang benar dan mana yang salah sehingga tak ada kesalahan atas isu yang diperjuangkan dan tak ada lagi kesalahan dalam gerakan yang dilakukan!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar