Ku dengar bahwa hari Sabtu ini kampus tempatku terdaftar sebagai mahasiswa akan mewisuda sejumlah mahasiswa. Ku katakan sejumlah karena memang aku tak tahu berapa jumlahnya, daripada mengira-ngira apalagi menyebut sebuah angka meski dengan mendahuluinya dengan kata sekitar lebih baik mengatakan sejumlah saja, kalau mau tahu berapa jumlahnya silahkan browshing dan buka website STKIP HAMZANWADI Selong. Ya, disanalah namaku terdafta sebagai mahasiswa, mahasiswa semester akhir yang belum sempat mengurus proposal penelitiannya, hehe.
Info tentang wisuda ini ku dengar dari salah seorang temanku yang menjadi dosen disana. Memang pernah dengar kalau kampus akan mewisuda mahasiswa pada tanggal 28 Februari 2015, dan gak nyangka kalau tanggal itu akan jatuh pada hari Sabtu besok.
Ku ucapkan Selamat kepada kawan-kawan yang memang tak ku kenal, tetapi karena berada disatu kampus yang sama maka kalian adalah kawan-kawanku, bahkan saudaraku. Sekali lagi selamat ya, semoga dengan perubahan status mahasiswa menjadi Sarjana menjadi langkah baru bagi kawan-kawan untuk berbuat yang terbaik bagi kehidupan!
Amiiiin!
Rabu, 25 Februari 2015
"Sultan Mehmet II : Sang Penakluk" Karya John Freely
Sebagai seorang muslim, berbaik sangka terhadap segala sesuatu lebih utama daripada berburuk sangka, karena buruk sangka hanya akan mengotori hati. Terkait dengan buku disamping, meski merasa agak kecewa dengan isi bukunya dimana Sultan yang kami hormati sebagai seorang penakluk yang telah digambarkan oleh Rasululllah SAW sebagai sebaik-baiknya pemimpin, ternyata dalam buku ini digambarkan sebagai seorang panglima perang yang sangat kejam, begitu pula prajuritnya.
Perang memang tak lepas dari pembunuhan, tetapi apakah mungkin prajurit yang tak pernah lupa mengingat Allah SWT dan melandaskan sikap dan prilakunya pada Al-Quran dan Hadist akan melakukan penjarahan dan pemerkosaan terhadap rakyat di daerah taklukan? Aku tak bisa mempercayai isi buku ini. Meski begitu, selalu saja ada manfaat yang bisa diambil, dimana beberapa nama tempat diceritakan secara detil yang mudah-mudahan menjadi petunjuk untuk mencari tahu kebenaran sesungguhnya.
Amiiin!
Notes:
Apa yang tertulis di atas adalah kesimpulan sementara atas hasil bacaan hingga beberapa bab di awal, mungkin ada kawan-kawan yang punya analisis/kesimpulan berbeda terkait dengan isi buku tersebut, semoga bisa share di kolom komentar!
Selasa, 24 Februari 2015
Muhammad Al fatih (Sultan Mahmet II)

Ustad Felix Siauw berperan penting dalam perkenalanku dengan Sultan Muhammad Al Fatih, seorang penakluk Konstantinopel pada tahun 1453 M, dimana lewat ceramah-ceramah beliau yang terupload di Youtube dan status-status yang terposting di akun FB nya memberiku ketertarikan untuk mengetahui lebih jauh tentang peradaban Islam dan sosok Muhammad Al Fatih.
Maka perkenalan dengan Muhammad Al Fatih pun dimulai. Aku mulai mencari sumber-sumber yang berkaitan dengan beliau, dan tulisan Ustad Felix Siauw menjadi rujukan pertama, mengapa? Karena aku percaya penuh kepadanya (meski tak pernah bertemu langsung), alasannya hanya satu, "Felix Siauw menjadikan Al-Qur'an sebagai landasan sikap dan prilakunya".
Kesempatan untuk mendapatkan buku tersebut pun datang. Seorang keluarga yang bekerja di salah satu wilayah Jakarta Selatan menawariku sebuah buku (judul buku diserahkan kepadaku). Tawaran itu tak ku sia-siakan. Karena tawaran hanya satu buah buku, maka pilihan pun jatuh pada buku Felix Siauw yang kedua, "Muhammad Al-Fatih 1453". Dan apa yang terjadi? Apakah aku mendapatkan buku itu?
Ternyata Allah SWT punya rencana lain, dan mengaturnya untukku. Yang ku terima adalah buku pertama Ustad Felix, "Beyond The Inspiration" yang berbicara tentang Islam dan keimanan kepada Allah SWT, dan bagaimana di dalam buku itu di ceritakan sedikit tentang bagaimana Muhammad Al Fatih meyakini bahwa kemenangan dalam Penaklukan Konstantinopel diperoleh atas izin dan pertolongan Allah SWT.

Dan sekang Tuhan mempertemukanku dengan sebuah buku baru berjudul "Sultan Mahmet II, Sang Penakluk : Epos mengangumkan tentang pemimpin muslim Penaklukan Konstantinopel" yang ditulis oleh John Freely. Jika terhadap buku Felix Siauw aku percaya penuh atas kebenaran data dan informasinya, maka dengan buku yang terakhir ini aku bertanya, "Apakah semua data dan informasi yang terdapat dalam buku John ini berdasarkan fakta? Benarkah kehidupan Al Fatih seperti itu? (Karena kehidupan Al Fatih diceritakan dari sudut lain, perang/penaklukan, bukan dari sudut pandang keyakinannya kepada Tuhan** Baru baca sampe bab 4) Perlu banyak referensi lain untuk mengetahuinya!
Semoga Allah tetap memberi petunjuk untuk menguak kebenaran sejarah Peradaban Islam yang telah sekian lama diselubungkan untuk sebuah kepentingan.
Notes:
Thanks Untuk Lidya atas buku "Beyond the Insiration" dan Cu'Upa atas pinjaman bukunya: "Sultah Mahmet II - Sang Penakluk"
Semoga Allah SWT selalu memberikan perlindungan kepada kalian!
Amiiiin!
Kongres Gema Alam NTB (Hari Ketiga)
Jurit Baru, 22 Februari 2015
Dalam statuta organisasi telah ditetapkan bahwa dalam kongres hanya ketua yang tentukan, sementara pemilihan staf yang akan mengisi struktur organisasi akan dilaksanakan dalam musyawarah setelah kongres. Pemilihan ketua dilakukan dengan jalan musyawarah, karena di Gema Alam NTB tidak ada istilah voting.
Dalam proses penentuan calon ini oleh peserta kongres, diusulkan tiga orang calon yang terlihat di foto (Haiziah Gazali, Muhammad Hirsan, dan Mansyur), dan dari foto tersebut terlihat kekompakan dan keakuran calon alias tidak ada perseteruan dalam pencalonan.
Para calon mulai memaparkan visi dan misinya.
Alhamudillah, setelah musyawarah akhirnya ditetapkan Haiziah Gazali sebagai ketua Gema Alam NTB periode 2015-2018.
(Proses serah terima jabatan dari ketua lama dengan ketua baru)
Selamat untuk mbak Haiziah Gazali, semoga mampu memimpin Gema Alam NTB dengan baik, benar dan indah sehingga apa yang diperjuangkan oleh organisais bisa terwujud, yakni "terwujudnya tata kelola sumber daya alam dan lingkungan yang baik, adil dan berkelanjutan untuk kemaslahatan umat"
Notes:
Hari ini aku dan dua orang volunteer lainnya, Cu'Upa dan Puji ditetapkan sebagai anggota Gema Alam NTB. Terima kasih atas kepercayaan kawan-kawan!
Dalam statuta organisasi telah ditetapkan bahwa dalam kongres hanya ketua yang tentukan, sementara pemilihan staf yang akan mengisi struktur organisasi akan dilaksanakan dalam musyawarah setelah kongres. Pemilihan ketua dilakukan dengan jalan musyawarah, karena di Gema Alam NTB tidak ada istilah voting.
Dalam proses penentuan calon ini oleh peserta kongres, diusulkan tiga orang calon yang terlihat di foto (Haiziah Gazali, Muhammad Hirsan, dan Mansyur), dan dari foto tersebut terlihat kekompakan dan keakuran calon alias tidak ada perseteruan dalam pencalonan.
Para calon mulai memaparkan visi dan misinya.
Alhamudillah, setelah musyawarah akhirnya ditetapkan Haiziah Gazali sebagai ketua Gema Alam NTB periode 2015-2018.
(Proses serah terima jabatan dari ketua lama dengan ketua baru)
Notes:
Hari ini aku dan dua orang volunteer lainnya, Cu'Upa dan Puji ditetapkan sebagai anggota Gema Alam NTB. Terima kasih atas kepercayaan kawan-kawan!
Kongres Gema Alam NTB (Hari Kedua)
Jurit Baru, 21 Februari 2015
Dinginya pagi tak menyurutkan semangat kami untuk merangkai mimpi Gema Alam NTB.
Kerjasama yang baik, benar dan indah dengan mengedepankan logika, etika dan estetika adalah bagian dari cara kami mengukir mimpi itu. Perbedaan pendapat pasti ada tetapi dan itu dijadikan sebagai warna untuk memperindah mimpi-mimpi itu.
"Abang-abangku memang selalu kompak!"
Setiap suara di dengar, meski masih berstatus volunteer, kami diperlakukan sama dengan anggota lainnya. Di Gema Alam NTB memang tak dikenal istilah senior dan junior tetapi etika penghormatan selalu terjaga dan istilah senior dan junior cukup terekam dihati saja untuk menjaga etika dan estetika.
Dinginya pagi tak menyurutkan semangat kami untuk merangkai mimpi Gema Alam NTB.
Kerjasama yang baik, benar dan indah dengan mengedepankan logika, etika dan estetika adalah bagian dari cara kami mengukir mimpi itu. Perbedaan pendapat pasti ada tetapi dan itu dijadikan sebagai warna untuk memperindah mimpi-mimpi itu.
"Abang-abangku memang selalu kompak!"
Setiap suara di dengar, meski masih berstatus volunteer, kami diperlakukan sama dengan anggota lainnya. Di Gema Alam NTB memang tak dikenal istilah senior dan junior tetapi etika penghormatan selalu terjaga dan istilah senior dan junior cukup terekam dihati saja untuk menjaga etika dan estetika.
-- to be continue --
Kongres Gema Alam NTB (Hari Pertama)
Jurit Baru, 20 Februari 2015
Ruas jalan menuju lokasi kongres. Ini masih terbilang bagus, karena ruas berikutnya kondisinya lebih parah
Kongres ini akan diikuti oleh 13 orang yang terdiri atas 10 orang anggota Gema Alam NTB dan 3 orang volunteer, dan aku salah satunya. Karena kawan-kawan yang lain belum datang dan tidak semua kawan tahu lokasi kongres maka kami pun menunggu yang lain di rumah keluarga salah seorang anggota yang berlokasi di Dusun Bolen Desa Jurit Baru.
Yang terlihat di foto adalah anggota yang di gadang-gadang untuk dicalonkan menjadi ketua Gema Alam NTB periode 2015-2018.
Kawan-kawan mulai berdatangan.Beberapa orang diminta berangkat duluan dan yang belum datang akan ditunggu oleh salah satu kawan yang mengetahui lokasi kongres yang nantinya akan berperan sebagai guide.
Lokasi kongres, salah satu dusun di desa Jurit Baru yang merupakan rumah salah seorang Community Organizer (CO) komunitas.
Lokasi kongres mulai dipersiapkan.
Kongres dimulai dengan pembukaan oleh Ketua Gema Alam NTB periode 2012-2015, Muhammad Juaini.
Aku bersama salah seorang volenteer perempuan, Suhupawati yang biasa di panggil Cu'Upa, menjadi pendengar yang baik, menyimak setiap kata yang terlontar dari kawan-kawan ketika menganalisis draf Tata Tertib Kongres yang kemudian dilanjutkan dengan draf Statuta Gema Alam NTB.
Dalam kongres ini, aku bersama dua orang volunteer lainnya (Cu'Upa dan Puji) berperan sebagai panitia yang salah satu tugasnya adalah membuat notulensi kongres. Karena aku ingin mengikuti kongres dengan total maka untuk notulensi ku gunakan alat perekam (audio) untuk merekekam proses kongres, sehingga notulensinya bisa dibuat belakangan.
Ruas jalan menuju lokasi kongres. Ini masih terbilang bagus, karena ruas berikutnya kondisinya lebih parah
Kongres ini akan diikuti oleh 13 orang yang terdiri atas 10 orang anggota Gema Alam NTB dan 3 orang volunteer, dan aku salah satunya. Karena kawan-kawan yang lain belum datang dan tidak semua kawan tahu lokasi kongres maka kami pun menunggu yang lain di rumah keluarga salah seorang anggota yang berlokasi di Dusun Bolen Desa Jurit Baru.
Yang terlihat di foto adalah anggota yang di gadang-gadang untuk dicalonkan menjadi ketua Gema Alam NTB periode 2015-2018.
Kawan-kawan mulai berdatangan.Beberapa orang diminta berangkat duluan dan yang belum datang akan ditunggu oleh salah satu kawan yang mengetahui lokasi kongres yang nantinya akan berperan sebagai guide.
Lokasi kongres, salah satu dusun di desa Jurit Baru yang merupakan rumah salah seorang Community Organizer (CO) komunitas.
Lokasi kongres mulai dipersiapkan.
Kongres dimulai dengan pembukaan oleh Ketua Gema Alam NTB periode 2012-2015, Muhammad Juaini.
Aku bersama salah seorang volenteer perempuan, Suhupawati yang biasa di panggil Cu'Upa, menjadi pendengar yang baik, menyimak setiap kata yang terlontar dari kawan-kawan ketika menganalisis draf Tata Tertib Kongres yang kemudian dilanjutkan dengan draf Statuta Gema Alam NTB.
Dalam kongres ini, aku bersama dua orang volunteer lainnya (Cu'Upa dan Puji) berperan sebagai panitia yang salah satu tugasnya adalah membuat notulensi kongres. Karena aku ingin mengikuti kongres dengan total maka untuk notulensi ku gunakan alat perekam (audio) untuk merekekam proses kongres, sehingga notulensinya bisa dibuat belakangan.
-- to be continue --
Senin, 16 Februari 2015
Sosialisasi Peraturan Desa Tete Batu Selatan tentang Perlindungan Buruh Migran Indonesia (Bagian 1)
Lombok Timur, 14 Februari 2015. Pemerintah desa Tete Batu Selatan melakukan sosialisasi Peraturan Desa Tete Batu Selatan tentang Perlidungan
Buruh Migran Indonesia. Sosialisasi ini dilakukan bersama salah satu NGO di
Kabupaten Lombok Timur yang memang bergelut dalam isu Buruh Migran Indonesia
(BMI) dimana sosialisasi dilakukan dalam bentuk pementasan drama rudat yang
dimainkan oleh masyarakat lokal, beberapa diantaranya adalah staf desa Tete
Batu Selatan.
Acara dibuka sekitar pukul 9 malam WITA bertempat di
Lapangan Umum Tete Batu oleh Gunanto, Kepala Desa Tete Batu Selatan. Kemudian
dilanjutkan dengan sambutan dari staf NGO pendamping. Setelah itu pementasan
drama rudat dengan tema “Peraturan Desa Tete Batu Selatan tentang Perlindungan Buruh Migran Indonesia yang responsip gender”.
Drama dimulai dengan pembacaan narasi, kemudian diikuti
dengan sebuah adegan seorang lelaki berpakaian adat Sasak, Amaq Kulur, sedang
menyapu halaman rumahnya. Sementara istrinya, Inaq Qulur sedang mengurus anak
mereka yang akan berangkat ke sekolah. Tak lama kemudian lewatlah sepasang
suami istri, Inaq Sukun dan Amaq Sukun, mengajak ngobrol Amaq Kulur.
“Yoh, mbe seninaq de Amaq Kulur? Makat side nyapu lelah?” Tanya
Pak Sukun -- [Loh, mana istrnya Pak
Kulur? Kenapa Bapak yang menyapu halaman?]
“No, lek dalem. Ye nyekene rungu kanak sik gen lekaq
sekolan! Jawab Amaq Kulur --[Dia di
dalam, sedang mengurus anak yang akan berangkat sekolah]
“Kewende gawek pegawean dengan nine ini, bareh gitak ne ide
sik dengan, parande ide kalah sik tombong!” Ujar Amaq Sukun -- [Mau-maunya Bapak mengerjakan pekerjaan
perempuan, nanti dilihat sama orang, ntar dikatakan kalah sama perempuan]
“Ngene be eku je, ndek ku peduli epe ongkat dengan, sik
penting ku behegie bareng seninak ku, mun marak bese dengan je masa bodoh eku
sik ongkat dengan, ye sik ku tulung seninak ku ine adek ne ndak lelah lalok,
wah ne kelaang ite kakenan, rungu kanak sik berangkat sekolah kence sik lainnan,
masaq ndek te bau tulong ye sik ngene-ngene?” Jawab Amaq Kulur. -- [Kalau saya begini Pak, saya tidak peduli
orang mau bilang apa, yang penting saya bahagia bersama istri, seperti katanya
orang, “masa bodoh” saya dengan pendapat orang. Beginilah cara saya menolong
istri saya biar tidak terlalu lelah, sudah memasak, ngurus anak, dan lainnya, kok
untuk pekerjaan yang seperti ini tidak bisa saya bantu?]
“Mun eku je ndek kewe gawek sik ngeni-ngeni, ndek ku kewe te
paran kalah sik tombong!” Ujar Amaq Sukun --[Kalau
saya, saya ogah mengerjakan hal yang seperti ini, tidak mau saya nanti
dikatakan kalah sama perempuan]
“Marak ongkatku sik beruk, masa bodoh eku sik ongkat dengan,
alurang bae ne ngeraos dengan, yang penting eku kence seninaq ku behegie”.
Jawab Amaq Kulur. -- [Seperti yang sudah
saya katakan tadi, saya tidak peduli dengan katanya ornag, biarkan saja mereka
berkata apa, yang penting saya dan istri bahagia]
“Lamun ne ngeni sik de mikir kakak, legah senengku” Ujar
Inak Sukun. – [Kalau Kakak berfikir
seperti itu, tak terbayang bagaimana bahagia saya pak]
“No, seninak de doang ngeni ongkat ne, ndek te ke ilaq ke
jeri dengan meme?” Ujar Amaq Kulur – [Tu
kan, istrinya saja berkata seperti itu.
Apakah sebagai laki-laki kita tidak merasa malu?]
“Adoo... kemu je adik, nteh te lalo ngeno je!” Ujar Amaq
Sukun -- [Kamu kok bilang gitu dek? Ayo
kita pergi dari sini!]
To be Continue
Selasa, 10 Februari 2015
Suka Cita bersama Kawan-Kawan Sanggar Narariawani dalam Festival Kaliantan 4 (Bagian 2)
Senin, 9 Februari 2015
Menyambut pagi bersama kawan-kawan Sanggar Narariawani : Ratmaje, Aziz, Kirom dan Hariri
Kemacetan lalu lintas tak hanya terjadi di ruas-ruas jalan kota, tetapi daerah pinggiran kota pun mengalaminya, salah satunya adalah ruas jalan menuju Pantai Kaliantan yang berakibat pada banyaknya sepeda motor matic harus berhenti, terpaksa di hentikan dan didinginkan karena mengeluarkan asap, termasuk motor yang kami kendarai.
Kemacetan akhirnya berlalu tetapi mesin motor yang kami gunakan masih panas. Untung ada penjual es yang lewat, jadi bisa duduk santai menunggu mesin motor dingin dengan es yang tak kalah dinginnya!
Pemberhentian kedua di sebuah warung di pinggir jalan, masih dalam wilayah Kecamatan Jerowaru.
Kali ini bersama Ratmaje, Anis yang ke numpang ke kawar mandi dan salah satu pemeran dalam pementasan teater "Putri Mandalika" : Panglima (yang lagi nelpon)- lupa namanya!
Pemberhentian terkhir, di sebuah musholla kecamatan Labuhan Haji.
Notes:
Thanks buat kebaikan dan keramahan kawan-kawan Sanggar Narariawani : Ratmaje, Aziz, Winda, Tuti, Yanti, Oci, Roni, dan yang lainnya. Dan tak lupa pula terima kasih buat Kirom Semburat Cahaya dan Hariri atas jepretan-jepretan kameranya!
Menyambut pagi bersama kawan-kawan Sanggar Narariawani : Ratmaje, Aziz, Kirom dan Hariri
Kemacetan lalu lintas tak hanya terjadi di ruas-ruas jalan kota, tetapi daerah pinggiran kota pun mengalaminya, salah satunya adalah ruas jalan menuju Pantai Kaliantan yang berakibat pada banyaknya sepeda motor matic harus berhenti, terpaksa di hentikan dan didinginkan karena mengeluarkan asap, termasuk motor yang kami kendarai.
Kemacetan akhirnya berlalu tetapi mesin motor yang kami gunakan masih panas. Untung ada penjual es yang lewat, jadi bisa duduk santai menunggu mesin motor dingin dengan es yang tak kalah dinginnya!
Pemberhentian kedua di sebuah warung di pinggir jalan, masih dalam wilayah Kecamatan Jerowaru.
Kali ini bersama Ratmaje, Anis yang ke numpang ke kawar mandi dan salah satu pemeran dalam pementasan teater "Putri Mandalika" : Panglima (yang lagi nelpon)- lupa namanya!
Pemberhentian terkhir, di sebuah musholla kecamatan Labuhan Haji.
Notes:
Thanks buat kebaikan dan keramahan kawan-kawan Sanggar Narariawani : Ratmaje, Aziz, Winda, Tuti, Yanti, Oci, Roni, dan yang lainnya. Dan tak lupa pula terima kasih buat Kirom Semburat Cahaya dan Hariri atas jepretan-jepretan kameranya!
Suka Cita bersama Kawan-Kawan Sanggar Narariawani dalam Festival Kaliantan 4 (Bagian 1)
Minggu, 8 Februari 2015
Sore:
Alhamdulillah bisa tiba di Pantai Kaliantan dengan selamat (Di belakang panggung acara)
Perisean : Salah satu permainan khas Suku Sasak (Lombok) untuk menguji ketangkasan.
Salah satu mushalla di Kaliantan, terletak sekitar 1 km dari pusat kegiatan. Hanya ada satu buah tikar, dua karpet kecil berukuran kurang lebih 1,5 x 1 meter persegi, satu buah jam dinding, dan satu buah radio kecil.
Pemukiman penduduk (dekat mushalla). Selain masih kumuh, air sumur juga terasa asin. Lalu apakah air sumur itu yang mereka minum setiap hari? Gak sempat nanya ke warga setempat karena situasi dan kondisi yang kurang mendukung.
Bersama kawan-kawan Sanggar Narariawani yang akan melakukan pementasan teater berjudul "Putri Mandalika"
Senja mulai hadir. Kawan-kawan Sanggar mulai mempersiapkan diri untuk pentas.
Menghangatkan tubuh dengan secangkir kopi sambil menunggu pementasan teater "Putri Mandalika" oleh kawan-kawan Sanggar Narariawani.
Panggun mulai dipersiapkan untuk pementasan "Putri Mandalika" oleh kawan-kawan Sanggar Narariawani. Para penonton sangat antusias menunggu aksi kawan-kawan, dan aku salah satu dari penonton itu.
Salah satu adegan pementasan teater "Putri Mandalika" : Putri Mandalika (berkebaya kuning) diberi tahu oleh ayahanda-nya bahwa ia akan segera dinikahkan dengan salah seorang pangeran yang bisa memenangkan sayembara.
Air laut Kaliantan surut. Masyarakat beramai-ramai turun ke laut membawa segala perlengkapan yang dibutuhkan untuk sebuah kegiatan yang disebut "Bau Nyale" (Menangkap Nyale) dimana Nyale oleh masyarakat Lombok dipercaya sebagai jelmaan dari Putri Mandalika yang menceburkan diri ke laut karena tidak ingin memilih satu pun dari pangeran yang meminangnya.
Bau nyale dimulai sekitar pukul 4 dini hari, sehingga senter menjadi perlengkapan utama yang harus dibawa oleh masyarakat yang hendak melakukan penangkapan.Selain senter, perlengkapan lainnya yang harus dibawa adalah sorok, sandal/sepatu, tali rapia, kantung atau ember yang akan digunakan sebagai wadah hasil tangkapan.
Ketika "Bau Nyale" dilakukan, beberapa orang masyarakat bersorak, dimana sorakan tersebut dipercaya sebagai pemikat datangnya "Nyale" yang hendak mereka tangkap. Adapun nyale tersebut berupa cacing laut dengan beragam warna dimana warna cacing memiliki makna dan khasiat sendiri baik pada bidang kesehatan maupun pertanian.
Sore:
Alhamdulillah bisa tiba di Pantai Kaliantan dengan selamat (Di belakang panggung acara)
Perisean : Salah satu permainan khas Suku Sasak (Lombok) untuk menguji ketangkasan.
Salah satu mushalla di Kaliantan, terletak sekitar 1 km dari pusat kegiatan. Hanya ada satu buah tikar, dua karpet kecil berukuran kurang lebih 1,5 x 1 meter persegi, satu buah jam dinding, dan satu buah radio kecil.
Pemukiman penduduk (dekat mushalla). Selain masih kumuh, air sumur juga terasa asin. Lalu apakah air sumur itu yang mereka minum setiap hari? Gak sempat nanya ke warga setempat karena situasi dan kondisi yang kurang mendukung.
Bersama kawan-kawan Sanggar Narariawani yang akan melakukan pementasan teater berjudul "Putri Mandalika"
Senja mulai hadir. Kawan-kawan Sanggar mulai mempersiapkan diri untuk pentas.
Menghangatkan tubuh dengan secangkir kopi sambil menunggu pementasan teater "Putri Mandalika" oleh kawan-kawan Sanggar Narariawani.
Panggun mulai dipersiapkan untuk pementasan "Putri Mandalika" oleh kawan-kawan Sanggar Narariawani. Para penonton sangat antusias menunggu aksi kawan-kawan, dan aku salah satu dari penonton itu.
Salah satu adegan pementasan teater "Putri Mandalika" : Putri Mandalika (berkebaya kuning) diberi tahu oleh ayahanda-nya bahwa ia akan segera dinikahkan dengan salah seorang pangeran yang bisa memenangkan sayembara.
Air laut Kaliantan surut. Masyarakat beramai-ramai turun ke laut membawa segala perlengkapan yang dibutuhkan untuk sebuah kegiatan yang disebut "Bau Nyale" (Menangkap Nyale) dimana Nyale oleh masyarakat Lombok dipercaya sebagai jelmaan dari Putri Mandalika yang menceburkan diri ke laut karena tidak ingin memilih satu pun dari pangeran yang meminangnya.
Bau nyale dimulai sekitar pukul 4 dini hari, sehingga senter menjadi perlengkapan utama yang harus dibawa oleh masyarakat yang hendak melakukan penangkapan.Selain senter, perlengkapan lainnya yang harus dibawa adalah sorok, sandal/sepatu, tali rapia, kantung atau ember yang akan digunakan sebagai wadah hasil tangkapan.
Ketika "Bau Nyale" dilakukan, beberapa orang masyarakat bersorak, dimana sorakan tersebut dipercaya sebagai pemikat datangnya "Nyale" yang hendak mereka tangkap. Adapun nyale tersebut berupa cacing laut dengan beragam warna dimana warna cacing memiliki makna dan khasiat sendiri baik pada bidang kesehatan maupun pertanian.
Sabtu, 07 Februari 2015
Kaliantan
Kaliantan. Kau pernah mendengar kata itu? Bukan kalimantan kawan, tetapi Kaliantan. Itu merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Lombok Timur yang sangat identik dengan ritual adat : bau nyale, sebuah ritual untuk mengenang Putri Mandalika (mungkin begitu, hmmm... nyesel banget gak rajin bertanya pada leluhur yang tahu legenda itu, tapi kalau kau ingin tahu bagaimana kisahnya, tinggal cari di Om Google)
Meski termasuk suku Sasak yang menghuni Pulau Lombok sejak lahir, aku belum pernah berkunjung ke tempat itu. Secara, lingkungan tempat tinggalku memiliki kultur bahwa perempuan itu di rumah, dan tak pantas untuk nggelamang (baca: berkeliaran), apalagi ku dengar tempat itu sangat rawan untuk dikunjungi oleh perempuan. Itu sih ceritanya, belum dibuktikan benar atau salahnya. Dan senengnya besok siang aku memiliki kesempatan untuk berkunjung kesana bersama kawan-kawan sanggar yang hendak melakukan pementasan teater.
Meski termasuk suku Sasak yang menghuni Pulau Lombok sejak lahir, aku belum pernah berkunjung ke tempat itu. Secara, lingkungan tempat tinggalku memiliki kultur bahwa perempuan itu di rumah, dan tak pantas untuk nggelamang (baca: berkeliaran), apalagi ku dengar tempat itu sangat rawan untuk dikunjungi oleh perempuan. Itu sih ceritanya, belum dibuktikan benar atau salahnya. Dan senengnya besok siang aku memiliki kesempatan untuk berkunjung kesana bersama kawan-kawan sanggar yang hendak melakukan pementasan teater.
Langganan:
Komentar (Atom)
































