Senin, 16 Februari 2015

Sosialisasi Peraturan Desa Tete Batu Selatan tentang Perlindungan Buruh Migran Indonesia (Bagian 1)

Lombok Timur, 14 Februari 2015. Pemerintah desa Tete Batu Selatan melakukan sosialisasi Peraturan Desa Tete Batu Selatan tentang Perlidungan Buruh Migran Indonesia. Sosialisasi ini dilakukan bersama salah satu NGO di Kabupaten Lombok Timur yang memang bergelut dalam isu Buruh Migran Indonesia (BMI) dimana sosialisasi dilakukan dalam bentuk pementasan drama rudat yang dimainkan oleh masyarakat lokal, beberapa diantaranya adalah staf desa Tete Batu Selatan.

Acara dibuka sekitar pukul 9 malam WITA bertempat di Lapangan Umum Tete Batu oleh Gunanto, Kepala Desa Tete Batu Selatan. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari staf NGO pendamping. Setelah itu pementasan drama rudat dengan tema “Peraturan Desa Tete Batu Selatan tentang Perlindungan Buruh Migran Indonesia yang responsip gender”.

Drama dimulai dengan pembacaan narasi, kemudian diikuti dengan sebuah adegan seorang lelaki berpakaian adat Sasak, Amaq Kulur, sedang menyapu halaman rumahnya. Sementara istrinya, Inaq Qulur sedang mengurus anak mereka yang akan berangkat ke sekolah. Tak lama kemudian lewatlah sepasang suami istri, Inaq Sukun dan Amaq Sukun, mengajak ngobrol Amaq Kulur.

“Yoh, mbe seninaq de Amaq Kulur? Makat side nyapu lelah?” Tanya Pak Sukun -- [Loh, mana istrnya Pak Kulur? Kenapa Bapak yang menyapu halaman?]

“No, lek dalem. Ye nyekene rungu kanak sik gen lekaq sekolan! Jawab Amaq Kulur --[Dia di dalam, sedang mengurus anak yang akan berangkat sekolah]

“Kewende gawek pegawean dengan nine ini, bareh gitak ne ide sik dengan, parande ide kalah sik tombong!” Ujar Amaq Sukun -- [Mau-maunya Bapak mengerjakan pekerjaan perempuan, nanti dilihat sama orang, ntar dikatakan kalah sama perempuan]

“Ngene be eku je, ndek ku peduli epe ongkat dengan, sik penting ku behegie bareng seninak ku, mun marak bese dengan je masa bodoh eku sik ongkat dengan, ye sik ku tulung seninak ku ine adek ne ndak lelah lalok, wah ne kelaang ite kakenan, rungu kanak sik berangkat sekolah kence sik lainnan, masaq ndek te bau tulong ye sik ngene-ngene?” Jawab Amaq Kulur. -- [Kalau saya begini Pak, saya tidak peduli orang mau bilang apa, yang penting saya bahagia bersama istri, seperti katanya orang, “masa bodoh” saya dengan pendapat orang. Beginilah cara saya menolong istri saya biar tidak terlalu lelah, sudah memasak, ngurus anak, dan lainnya, kok untuk pekerjaan yang seperti ini tidak bisa saya bantu?]

“Mun eku je ndek kewe gawek sik ngeni-ngeni, ndek ku kewe te paran kalah sik tombong!” Ujar Amaq Sukun --[Kalau saya, saya ogah mengerjakan hal yang seperti ini, tidak mau saya nanti dikatakan kalah sama perempuan]

“Marak ongkatku sik beruk, masa bodoh eku sik ongkat dengan, alurang bae ne ngeraos dengan, yang penting eku kence seninaq ku behegie”. Jawab Amaq Kulur. -- [Seperti yang sudah saya katakan tadi, saya tidak peduli dengan katanya ornag, biarkan saja mereka berkata apa, yang penting saya dan istri bahagia]

“Lamun ne ngeni sik de mikir kakak, legah senengku” Ujar Inak Sukun. – [Kalau Kakak berfikir seperti itu, tak terbayang bagaimana bahagia saya pak]

“No, seninak de doang ngeni ongkat ne, ndek te ke ilaq ke jeri dengan meme?” Ujar Amaq Kulur – [Tu kan, istrinya saja berkata  seperti itu. Apakah sebagai laki-laki kita tidak merasa malu?]

“Adoo... kemu je adik, nteh te lalo ngeno je!” Ujar Amaq Sukun -- [Kamu kok bilang gitu dek? Ayo kita pergi dari sini!]

To be Continue


Tidak ada komentar:

Posting Komentar