Sore:
Alhamdulillah bisa tiba di Pantai Kaliantan dengan selamat (Di belakang panggung acara)
Perisean : Salah satu permainan khas Suku Sasak (Lombok) untuk menguji ketangkasan.
Salah satu mushalla di Kaliantan, terletak sekitar 1 km dari pusat kegiatan. Hanya ada satu buah tikar, dua karpet kecil berukuran kurang lebih 1,5 x 1 meter persegi, satu buah jam dinding, dan satu buah radio kecil.
Pemukiman penduduk (dekat mushalla). Selain masih kumuh, air sumur juga terasa asin. Lalu apakah air sumur itu yang mereka minum setiap hari? Gak sempat nanya ke warga setempat karena situasi dan kondisi yang kurang mendukung.
Bersama kawan-kawan Sanggar Narariawani yang akan melakukan pementasan teater berjudul "Putri Mandalika"
Senja mulai hadir. Kawan-kawan Sanggar mulai mempersiapkan diri untuk pentas.
Menghangatkan tubuh dengan secangkir kopi sambil menunggu pementasan teater "Putri Mandalika" oleh kawan-kawan Sanggar Narariawani.
Panggun mulai dipersiapkan untuk pementasan "Putri Mandalika" oleh kawan-kawan Sanggar Narariawani. Para penonton sangat antusias menunggu aksi kawan-kawan, dan aku salah satu dari penonton itu.
Salah satu adegan pementasan teater "Putri Mandalika" : Putri Mandalika (berkebaya kuning) diberi tahu oleh ayahanda-nya bahwa ia akan segera dinikahkan dengan salah seorang pangeran yang bisa memenangkan sayembara.
Air laut Kaliantan surut. Masyarakat beramai-ramai turun ke laut membawa segala perlengkapan yang dibutuhkan untuk sebuah kegiatan yang disebut "Bau Nyale" (Menangkap Nyale) dimana Nyale oleh masyarakat Lombok dipercaya sebagai jelmaan dari Putri Mandalika yang menceburkan diri ke laut karena tidak ingin memilih satu pun dari pangeran yang meminangnya.
Bau nyale dimulai sekitar pukul 4 dini hari, sehingga senter menjadi perlengkapan utama yang harus dibawa oleh masyarakat yang hendak melakukan penangkapan.Selain senter, perlengkapan lainnya yang harus dibawa adalah sorok, sandal/sepatu, tali rapia, kantung atau ember yang akan digunakan sebagai wadah hasil tangkapan.
Ketika "Bau Nyale" dilakukan, beberapa orang masyarakat bersorak, dimana sorakan tersebut dipercaya sebagai pemikat datangnya "Nyale" yang hendak mereka tangkap. Adapun nyale tersebut berupa cacing laut dengan beragam warna dimana warna cacing memiliki makna dan khasiat sendiri baik pada bidang kesehatan maupun pertanian.











Tidak ada komentar:
Posting Komentar