Sekitar dua minggu lagi kegiatan PPL-KKN akan selesai. Dalam detik-detik terakhir ini ada beberapa hal yang terjadi terkait dengan hal tersebut, hal menyenangkan dan menyedihkan tercampur jadi satu dan terbingkai dalam sejarah yang tak tertuliskan. Aku mencoba menulis sejarah itu dengan caraku sendiri, merekamnya dalam untaian kata-kata.
Sabtu, 27 September 2014.
Faus, salah satu temen PPLku menyerahkan perangkat pembelajaran kepada guru pamongnya. Tebal perangkatnya lebih kurang setebal kertas satu rim. Tebal perangkat itu membuatku merasa takjub dan bertanya dalam hati,"Bagaimana nanti kalau ditambah dengan laporan? Uuuu......... pasti tebel banget deh!"
Faus duduk di ruang lobi, menunggu dengan sabar Sang Pamong, dan ketika bertemu dengan orang yang ditunggu lalu menyerahkan perangkat pembelajaran tersebut apa yang terjadi? Sang Pamong dengan menolak dan meminta Faus memperbaikinya, semuanya. Padahal perangkat tersebut adalah perangkat pembelajaran yang sudah dipakai oleh dua orang temanku yang satu pamong dengan Faus, dan sudah disetujui sama Sang Pamong, tetapi mengapa justru terjadi penolakan seperti itu? Apakah hal ini harus diabaikan saja atau dipertanyakan mengingat bahwa Faus adalah salah satu mahasiswa yang sedang belajar jadi guru dan Sang Pamong seharusnya berperan memberikan bimbingan dengan cara yang baik dan benar. Tetapi nyatanya adalah dia (Sang Pamong) menolak begitu saja dengan satu kalimat "perbaiki lagi".
Temen-temenku berasumsi bahwa sebenarnya Sang Pamong sentimen sama Faus, makanya diperlakukan seperti itu. "Kenapa kemarin gak konsultasikan satu RPP dulu?" Tanyaku pada Pekik, mahasiswa PPL yang satu pamong dengan Faus. "Sebelumnya Faus sudah menyerahkan RPP untuk dua bab tetapi ditolah sama pamong dan diminta membuat satu bab lagi dalam bentuk print out" Jelas Pekik. Selain itu Pekik juga menjelaskan bahwa mereka tak pernah diberi contoh RPP yang dibuat sama pamong keculai hanya diperlihatkan sekilas. Ketika mereka (Faus, dkk) hendak meminjamnya, lagi-lagi Pamong menjawab, "Saya pake RPP itu, kalian buat saja nanti saya periksa".
Untuk yang terjadi sama Faus, kau boleh membuat asumsi kawan-kawan! Tetapi jangan sampai asumsi itu membuat kebencian dan buruk sangka bercokol di hatimu, karena itu tidak baik bagi kesehatan!
Masih dalam hari yang sama. Nasib yang ku alami terkait dengan guru pamong di sekolah tempat kami PPL-KKN, jika dibandingkan dengan Faus, aku termasuk orang yang beruntung. Selain cantik, pamongku juga baik hati, bahkan dia sendiri yang langsung mengijinkanku libur selama seminggu untuk membuat laporan. Mengapa itu bisa terjadi? Mari ikuti asumsi yang ku buat kawan-kawan.
Segala permasalahan yang kita alami terkait dengan orang lain sebenarnya terkait dengan masalah komunikasi. Komunikasi yang baik dan benar serta indah mempengaruhi semuanya, apalagi hubungan personal yang baik selalu dibangun dengan komunikasi yang baik, benar, dan indah. Kau setuju?
Setuju atau tidak, aku sudah membuktikan hal itu!


