Anak itu bernama Renita. Aku mengenalnya di salah satu sekolah yang menjadi lokasi PPL-KKN Kependdikan. Ya, aku adalah salah satu mahasiswa yang mengikuti program PPL-KKN itu, sebuah program yang dilaksanakan selama 3 bulan.
SMA. Itu nama sekolah tempatku mengenal Renita, salah satu siswa kelas XI program IPS, program yang dilabelkan oleh kebanyakan orang sebagai program anti matematika, tetapi sayangnya sejak beberapa tahun ini matematika menjadi pelajaran wajib. Jadi, anak-anak yang tujuannya memilih IPS karena ketidakgemaran mereka belajar matematika tak bisa lagi menjadikan program IPS sebagai pelarian.
"Anak IPA lebih pintar dari IPS. Apakah kalian pernah mendengar kalimat itu?" Tanyaku saat pertama kali berada di kelas XI IPS, berpraktik sebagai seorang guru.
"Ya bu!" Jawab mereka serentak.
"Apakah kalian suka mendengar itu?" Tanyaku lagi.
"Tidak bu!" Jawab mereka lagi secara serentak.
"Apakah kalian mau merubah hal tersebut menjadi IPS juga jago matematika?"
"Ya, tentu saja!"
Lalu sebuah kesepakatan pun kami buat. Aku dan anak-anak XI IPS sepakat untuk melakukan perubahan, merubah label anak IPS bodoh matematika menjadi pintar matematika. Anak IPS yang semula diidentikkan dengan anak-anak yang nakal menjadi anak-anak yang baik dan beretika, dan sebagainya. Merubah label negatif menjadi label positif dan hingga akhirnya semua orang sepakat bahwa setiap anak sama, cerdas dan istimewa.
Aku pun secara pribadi tak pernah suka mendengar pembedaan anak-anak, mengatai anak satu lebih baik dari yang lain. Karena bagiku setiap adak itu istimewa dengan segala potensi yang mereka miliki. Mereka memang berbeda tetapi perbedaan itu bukan menjadi alasan melabelkan mereka dengan label positif dan negatif. Justru perbedaan itu seharusnya dirangkai dengan seindah mungkin. Dan untuk bisa merangkai itu dibutuhkan seniman kehidupan yang benar-benar memahani hidup dan melukisnya dengan kreatifitas tinggi.. Siapakah seniman itu? Para guru dan orang tua yang memberikan pendidikan terbaik bagi generasi muda.
Kembali berbicara tentang siswaku di XI IPS. Mereka berjumlah 41 orang dalam satu kelas, secara kuantitas itu seharusnya dijadikan 2 rombongan belajar. Namun, ketersediaan sarana menyebabkan jumlah itu menjadi satu. Efeknya apa? Kau bisa bayangkan kawan, kelas ribut dengan segala apresiasi yang ditunjukkan oleh mereka, siswaku.
Aku sebagai guru baru disana (baca: mahasiswa PPL) mencoba memahami mereka, dan mengapresiasi segala ekspresi yang mereka tunjukkan dengan menghilangkan rasa marah dan segala bentuk intimidasi yang menimbulkan ketakutan, dan memang aku tak bisa melakukan itu. Secara, walaupun mereka baru ku kenal, aku menyayangi mereka. Bagiku mereka adalah anak-anak yang sangat istimewa, ah seandainya saja mereka mau menyadari bagaimana istimewanya mereka lalu mau bersamaku mengukir karya.
Dari 41 orang itu, muncul beberapa orang yang memang ku identifikasi memiliki potensi untuk cepat belajar matematika. Renita, Lisa, Sopian, Risa, Diana, dan Rahma. Dari nama yang ku sebutkan itu, yang paling bersemangat untuk belajar matematika adalah Renita. Menyadari itu, aku pun mencoba memberikan perhatian lebih kepadanya dengan memberikan bimbingan matematika di luar kelas. Caranya, ia ku minta mengerjakan soal-soal latihan yang ada di buku teks matematika dan modul, serta ku ingatkan ia untuk tetap menjawab soal-soal latihan tanpa harus menunggu intruksi dariku. Alhamdulilah, hal itu ia laksanakan. Salah satu harapanku adalah teman-temannya mau mengikuti teknik belajar Renita kepadaku karena untuk memberikan bimbingan sejenis les matematika, waktu dan kondisi belum memungkinkan untuk itu.
Anak-anak XI IPS belajar matematika atau pelajaran yang lain bukan karena takut dengan nilai atau takut kena marah gurunya tetapi mereka belajar karena mereka menyukainya dan merasa bahagia dengan apa yang mereka lakukan. Itu harapan terbesarku pada mereka. Dan memfasilitasi mereka untuk bisa seperti itu adalah salah satu bentuk perlawananku kepada para pendekar berwatak jahat yang ingin merusak generasi muda, yang ingin memperbodoh generasi muda untuk merampok kekayaan alam Indonesia. Para pendekar berwatak jahat yang teridentifikasi sebagai Imprealis.
Perubahan tidak bisa dilakukan satu kali dan berharap berhasil juga, tetapi perubahan harus selalu dilakukan secara berulang-ulang dan berkesinambungan, dan kabar gembiranya adalah perubahan akan selalu ada di setiap orang.
Salam Perubahan!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar