Rabu, 10 September 2014

Lestari Hutanku

Mereka menyebutnya "Lang-Lang", orang yang bertugas menjaga hutan di Pulauku. Aku tak tahu apakah istilah tersebut juga di pakai di tempat lain di pulau ini, karena aku pun pertama kali mendengar istilah itu beberapa minggu yang lalu saat ikut penelitian di salah satu desa di pinggir hutan.

"Apakah Lang-Lang sudah bertugas dengan baik?" Itu adalah pertanyaan yang penting untuk diperhatikan mengingat bahwa hutan adalah sumber utama kehidupan di pulau ini. Air bisa lestari jika hutan lestari, begitu pula dengan sumber daya alam lainnya yang bisa dimanfaatkan untuk kelangsungan semua makhluk hidup di pulau ini. 

Masalah bertugas dengan baik atau tidak tentu semua kita sepakat bahwa mereka mencoba melaksanakan tugas dengan sebaik mungkin. Tetapi bagaimana kondisi di lapangan? Beberapa hari yang lalu aku mendengar cerita dari para penangkap burung di hutan kami (aku belum tahu apakah menangkap burung di hutan adalah tindakan terlarang atau tidak). Mereka bercerita tentang dua orang yang bertemu langlang di hutan, dan tentu saja bentrok antara petugas dan pemburu terjadi. petugas hutang yang dinamakan Lang-Lang tadi mencoba menodongkan senjata (orang yang bercerita menyebutnya pistol) kepada kedua orang pemburu. Siapapun tentu akan melakukan apapun yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkan diri, termasuk dua orang pemburu tadi. Mereka dengan penuh keberanian menantang Lang-Lang dengan mengacungkan golok yang dibawa. Entah karena ketakutan atau mengambil sikap bijak, kedua Lang-Lang itu menurunkan senjata, mengalah dan meminta maaf, dan tentu saja membiarkan pemburu pergi. 

Dari peristiwa di atas, yang perlu diperhatikan bukanlah sikap berani yang ditunjukkan pemburu atau sikap mengalah yang ditunjukkan oleh Lang-Lang, tetapi kelestarian hutan dan sumber daya alam yang terdapat di dalamnya. Jika melakukan penangkapan terhadap burung (satwa hutan) adalah suatu tindakan kriminal, mengapa masyarakat justru nekat melakukannya? Bukankah dia tahu bahwa ada sanksi hukum yang harus dia terima jika itu tetap dilakukan? Banyak kemungkinan yang menjadi penyebab dari tindakan masyarakat tersebut, antara lain sebagai berikut:

  1. Semakin sempitnya lapangan pekerjaan sementara barang kebutuhan hidup semakin meningkat yang diiringi oleh meroketnya harga-harga kebutuhan tersebut.
  2. Masyarakat kurang faham dengan dampak lingkungan yang akan terjadi jika perburuan tetap dilakukan.
  3. Kurangnya tingkat kesadaran masyarakat akan kelestarian hutan.
  4. Lemahnya penegakan hukum.

Solusi dari permasalahan adalaha suatu hal yang sangat diperlukan. Maka dari identifikasi permasalah diatas solusi yang bisa dilaksanakan untuk menjaga kelestarian hutan adalah sebagai berikut:

  1. Buat lapangan pekerjaan untuk masyarakat yang tinggal di kawasan hutan.
  2. Berikan pemahaman yang baik dan benar kepada masyarakat baik yang tinggal maupun yang tidak tinggal di kawasan hutan.
  3. Tegakkan hukum sebaik mungkin.
Sehingga dengan pelaksanaan solusi di atas di harapkan hutan tetap lestari termasuk semua sumber daya yang ada di dalamnya, dan yang lebih penting adalah hubungan masyarakat dengan aparat pemerintah tetap terjaga dengan baik, benar dan indah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar