Senin, 27 Oktober 2014

Peneitian Skripsi : Tahap Observasi dan Pengajuan Judul

Observasi terhadap objek penelitian telah kulakukan untuk menguatkan masalah yang ingin ku angkat dalam penelitian skripsiku. Ya, sekarang aku telah berada di Semester 7 dan sudah saatnya mengajukan judul penelitian untuk skripsi yang merupakan salah satu syarat kelulusan sebagai seorang sarjana. Rencananya aku akan meneliti di salah satu sekolah atau madrasan yang terletak di kawasan pinggir Kabupaten Lombok Timur yang berbatasan langsung dengan Kawasan Hutan, MTs. NW Kembang Kuning.

Observasi penelitian kulakukan pada hari Senin, 27 Oktober 2014 dengan rangkaian kegiatan sebagai berikut:

  1. Wawancara dengan guru yang mengampu mata pelajaran.
  2. Mengamati proses pembelajaran yang berlangsung.

Dalam tahap observasi ini, peneliti harus menghindari asumsi, sehingga data yang terambil benar-benar kondisi riil di lapangan. Sebenarnya, untuk masalah penelitian ini, tahap observasi telah kulakukan di lokasi PPL kemarin, SMAN 1 Masbagik. Tetapi, karena lokasi yang ku pilih adalah daerah pinggir kabupaten dengan tingkat sekolah SMP/MTs. maka observasi ulang harus ku lakukan. 

Untuk penelitian, aku telah memiliki 3 buah judul ajuan yang semoga bisa diterima, yakni:

  1. Pengaruh implementasi pembelajaran berbasis kemampuan otak (Brain Based Learning) terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VII MTs. NW Kembang Kuning Tahun Pelajaran 2014/2015.
  2. Pengaruh Minat dan Motivasi terhadap Hasil Belajarr Matematika Siswa Kelas VII MTs. NW Kembang Kuning Tahun Pelajaran 2014/2015.
  3. Pengaruh kesadaran atas Konsep Diri terhadap Minat dan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII MTs. NW Kembang Kuning Tahun Pelajaran 2014/2015
Dari ketiga judul tersebut tampak bahwa objek penelitian rata-rata bersifat abstrak, yakni kesadaran, minat, motivasi dan brain (otak). Karena berdasarkan pengamatan yang kulakukan baik ketika PPL dan observasi kemarin, inti permasalah pembelajaran adalah diri siswa, bagaimana minat dan motivasi yang dimiliki, bagaimana pola pikir mereka, dan sebagainya, disamping juga cara guru membawakan mata pelajaran. Tetapi, untuk menghormati para guru dengan asumsi bahwa hasil penelitian akan menganggap keliru cara belajar mereka dan mengingat bahwa aku, sebagai peneliti adalah calon guru yang belum terlalu banyak pengalaman sebagai guru (yang banyak itu pengalaman sebagai murid) maka guru sebagai objek penelitian dihindari, untuk silaturrahmi juga (dengan beragam pertimbangan).

Maka dengan ucapan Bismillahirrahmanirrahiim... Semoga penelitian yang kulakukan berjalan lancar dan berakhir dengan sukses, serta semoga penelitian ini bisa bermanfaat bagi dunia pendidikan di Indonesia dan secara khusus di Kabupaten Lombok Timur.

Kamis, 16 Oktober 2014

Penarikan PPL-KKN

14 Oktober 2014

Mahasiswa PPL-KKN Kependidikan ditarik dari lokasi PPL-KKN. Prosedur mengatur bahwa penarikan itu dilakukan oleh DPL (Dosen Pembimbing Lapangan) secara serentak di lokasi masing-masing. Lalu bagaimana dengan penarikan kami?

Hari itu, kami yang berjumlah 16 orang datang ke sekolah. selain untuk pamitan, beberapa orang diantara kami juga menyelesaikan urusan yang berkaitan dengan laporan, pemberian form penilaian kepada guru, meminta tanda tangan guru yang bersangkutan, meminta stempel pengesahan, dan sebagainya, yang seharusnya hal itu telah kami selesaikan pada hari-hari sebelumnya, tetapi bagaimana lagi? kondisi telah terjadi seperti itu. dan aku adalah salah satu dari mahasiswa itu.

"Toh tanda tangan itu terletak di bagian tengah lamporan (lampiran). Tentu tak akan diperhatikan oleh panitia PPL-KKN" Bisikku dalam hati. Tetapi tetap saja nurani mengatakan bahwa ini masalah tanggungjawab, dan jangan sampai hal itu merusak laporan yang ku buat dengan begtu cantik.

Kondisi hari itu pun mendukungku. Seperti teori "Semesta Mendukung" - nya Prof. Yohanes Surya, aku pun akhirnya bertemu dengan orang-orang yang bersangkutan, kepala sekolah dan guru pamongku. Setelah tanda tangan terisi semuanya, aku menghamiri ruang TU (Tata Usaha) dan meminta stempel sekolah disana. Siip! Laporanku selesai juga. dan rasanya lega banget!

"Apakah DPL akan datang?" Tanyaku pada ketua PPL-KKN.
"Tidak!" Jawabnya.
"Loh?"
"Ya, kan dengar sendiri kemarin kalau acara perpisahan yang kita laksanakan pada hari sebelumnya dianggap cukup sebagai acara penarikan!"
"Oh, begitu!"

Maka dengan dipimpin oleh sang ketua, maka kami pun melakukan pamitan kepada guru dan staf yang ada di sekolah tersebut. Dan aku hanya berpamitan pada orang-orang tertentu saja.



Sabtu, 27 September 2014

Slide di Akhir PPL-KKN : Sebuah catatan kecil tentang peristiwa yang dialami kawan-kawan! (Bagian 1)

Sekitar dua minggu lagi kegiatan PPL-KKN akan selesai. Dalam detik-detik terakhir ini ada beberapa hal yang terjadi terkait dengan hal tersebut, hal menyenangkan dan menyedihkan tercampur jadi satu dan terbingkai dalam sejarah yang tak tertuliskan. Aku mencoba menulis sejarah itu dengan caraku sendiri, merekamnya dalam untaian kata-kata.

Sabtu, 27 September 2014.

Faus, salah satu temen PPLku menyerahkan perangkat pembelajaran kepada guru pamongnya. Tebal perangkatnya lebih kurang setebal kertas satu rim. Tebal perangkat itu membuatku merasa takjub dan bertanya dalam hati,"Bagaimana nanti kalau ditambah dengan laporan? Uuuu......... pasti tebel banget deh!"

Faus duduk di ruang lobi, menunggu dengan sabar Sang Pamong, dan ketika bertemu dengan orang yang ditunggu lalu menyerahkan perangkat pembelajaran tersebut apa yang terjadi? Sang Pamong dengan menolak dan meminta Faus memperbaikinya, semuanya. Padahal perangkat tersebut adalah perangkat pembelajaran yang sudah dipakai oleh dua orang temanku yang satu  pamong dengan Faus, dan sudah disetujui sama Sang Pamong, tetapi mengapa justru terjadi penolakan seperti itu? Apakah hal ini harus diabaikan saja atau dipertanyakan mengingat bahwa Faus adalah salah satu mahasiswa yang sedang belajar jadi guru dan Sang Pamong seharusnya berperan memberikan bimbingan dengan cara yang baik dan benar. Tetapi nyatanya adalah dia (Sang Pamong) menolak begitu saja dengan satu kalimat "perbaiki lagi". 

Temen-temenku berasumsi bahwa sebenarnya Sang Pamong sentimen sama Faus, makanya diperlakukan seperti itu. "Kenapa kemarin gak konsultasikan satu RPP dulu?" Tanyaku pada Pekik, mahasiswa PPL yang satu pamong dengan Faus. "Sebelumnya Faus sudah menyerahkan RPP untuk dua bab tetapi ditolah sama pamong dan diminta membuat satu bab lagi dalam bentuk print out" Jelas Pekik. Selain itu Pekik juga menjelaskan bahwa mereka tak pernah diberi contoh RPP yang dibuat sama pamong keculai hanya diperlihatkan sekilas. Ketika mereka (Faus, dkk) hendak meminjamnya, lagi-lagi Pamong menjawab, "Saya pake RPP itu, kalian buat saja nanti saya periksa".

Untuk yang terjadi sama Faus, kau boleh membuat asumsi kawan-kawan! Tetapi jangan sampai asumsi itu membuat kebencian dan buruk sangka bercokol di hatimu, karena itu tidak baik bagi kesehatan!

Masih dalam hari yang sama. Nasib yang ku alami terkait dengan guru pamong di sekolah tempat kami PPL-KKN, jika dibandingkan dengan Faus, aku termasuk orang yang beruntung. Selain cantik, pamongku juga baik hati, bahkan dia sendiri yang langsung mengijinkanku libur selama seminggu untuk membuat laporan. Mengapa itu bisa terjadi? Mari ikuti asumsi yang ku buat kawan-kawan.

Segala permasalahan yang kita alami terkait dengan orang lain sebenarnya terkait dengan masalah komunikasi. Komunikasi yang baik dan benar serta indah mempengaruhi semuanya, apalagi hubungan personal yang baik selalu dibangun dengan komunikasi yang baik, benar, dan indah. Kau setuju? 

Setuju atau tidak, aku sudah membuktikan hal itu!

Minggu, 14 September 2014

"Mid Semester : Tahap Kedua untuk Sebuah Pembuktian"

Hari ini merupakan hari pertama ujian mid smester siswaku (kalau boleh menyebut begitu) di SMA tempatku menjalani program PPL-KKN Kependidikan. Mata Pelajaran yang diujikan pun adalah mata pelajaran yang ku ampu, Matematika Wajib, sehingga bagi kami, aku dan siswaku di XI IPS 4, hari ini merupakan pembuktian atas usaha kami dalam membangun perubahan, membuktikan bahwa anak IPS pun bisa jago matematika. AKu berdoa untuk mereka, siswa kelas XI IPS 4 semoga mampu menjawab soal-soal yang diberikan dengan baik dan benar.

Aku sekarang berada di lobi sekolah, ya disanalah kami (mahasiswa PPL) di tempatkan, karena ruang guru terlalu sesak untuk diisi lagi oleh 16 orang mahasiswa. Sebenarnya aku ingin kami berada di ruang guru saja, mengamati setiap sikap dan prilaku guru-guru, mendengar apa yang mereka obrolkan tentang siswa sehingga aku bisa belajar dengan mereka, dan mendapatkan inspirasi tentang apa yang mestinya kulakukan untuk siswa-siswaku.

Tetapi mengeluh bukanlah sifatku. Aku mencoba mengamati dari tempat ini apa yang ingin ku amati, mendengar dengan seksama suara-suara yang bisa tertangkap oleh inderaku, dan menyimpannya menjadi data penting yang suatu saat nanti bisa ku manfaatkan untuk memperbaiki segala teknik yang kugunakan untuk perubahan itu. Ya, aku benar-benar ingin perubahan itu terjadi, siswa-siswa yang semula belajar karena rasa takut akhirnya mampu belajar dengan senang hati karena mereka menyukainya, mengabaikan niai yang tentu saja akan mereka dapatkan sesuai dengan apa yang mereka usahakan. Lagipula untuk apa nilai A tetapi siswaku tak bahagia dengan hal itu? Bagaimana aku bisa berkata begitu? Seandainya kau berada disini kawan dan memperhatikan wajah-wajah generasi muda yang terlihat tegang dan ketakutan, mungkin mereka takut dengan segala intimidasi yang mereka terima dari lingkungannya, intimidasi atas sesuatu yang mereka sebut nilai. Tetapi mungkin masyarakat sekolah ini tak pernah menyadari atas kehadiran intimidasi itu, karena terkait hal tersebut aku lah yang menyimpulkan. Dasar penyimpulannya? Pengamatan yang ku lakukan setiap hari.

Kau masih ingat ceritaku tentang Renita?
Hari ini aku juga janjian untuk bertemu dengannya di lobi untuk membicarakan beberapa hal. Aku menaruh harapanku pada anak itu, harapan untuk perubahan itu, setidaknya di kelas itu ada pembuktian bahwa setiap anak sebenarnya bisa matematika, dan matematika bukanlah suatu hal yang menakutkan seperti anggapan sebelumnya.

Aku berencana akan bertanya tentang beberapa hal pada Renita, tentang identitasnya, dan rencana ke depan atas apa yang akan kami lakukan. Aku ingin hubungan silaturrahmi kami tetap terjalin meski sebulan lagi kami harus berpisah (penarikan PPL-KKN dilaksanakan tanggal 14 Oktober). Bagaimana caranya? Tentu aku harus mengenalnya dulu lebih dekat sehingga aku tahu apa yang bisa ku lakukan untuknya, dan untuk teman-temannya di kelas XI-IPS 4.

Semoga Renita dan kawan-kawan bisa menyelesaikan semua soal Mid Semester dengan baik dan benar sehingga terbukti bahwa dengan usaha yang sungguh-sungguh, niali sempurna (A atau 100) bisa didapatkan, dan yang terpenting bukanlah nilai itu tetapi mereka menikmati dan bahagia dengan semuanya!!

Bagiku mereka sangat istimewa!
Siswa Kelas XI IPS 4



Membangun kerjasama antara laki-laki dan perempuan

Taman Depan Perpustakaan Daerah


Aku dan Progrma Kerja KKN

Secara akademik sebenarnya aku sangat malu dengan perkembangan progam KKN yang kami jalani. Bagaimana mungkin sekelompok orang dengan label mahasiswa menjadikan "Mantok Batu" (memecah batuan) sebagai program KKN ?(Sebenarnya perapian parkiran nama programnya, tetapi karena di parkiran ada batu/sisa bahan bangunan yang sudah membatu, maka itu harus dihancurkan, makanya ku sebut dengan istilah Mantok Batu) Jika pemecahan batuan tersebut dilakukan dengan cara cerdas dimana mahasiswa memecah bebatuan itu dengan pikiran bukan dengan tenaga. Tetapi yang terjadi adalah yang kedua, kawan-kawanku terlalu malas untuk berfikir bagaimana cara cerdas untuk menghancurkan bebatuan tersebut sehingga efektifitas waktu dan tenaga tetap terjaga. Tetapi kebanyakan kawanku bukanlah pemikir, mereka pekerja. Dan suaraku masih terlalu kecil untuk mereka dengarkan.

Melihat kondisi seperti itu aku mencoba melawan dengan bersikap tegas pada keadaan. Aku berharap mendapat dukungan dari kawan-kawan yang pro dengan ideku, tetapi kekecewaan harus ku telan karena saat forum dibuka, para pendukungku itu memilih diam, dan yang muncul adalah kontradiksi antara mahasiswa pemikir dan mahasiswa pekerja, 2 orang dari 16 orang yang ada, aku dan salah seorang kawan yang kawan-kawan juluki dengan nama Tubang, singkatan dari Tua Bangka.

Lama-lama aku merasa pernyataan-pernyataan yang ku ungkapkan terasa sia-sia, tak ada yang mendengarkan. Ya, sudah, kalau bergitu aku terpimpin saja dan fokus dengan segala misi yang telah kurancang dalam PPL-KKN ini, misi pribadi untuk mengupayakan pendidikan yang terbaik bagi generasi muda. Ya, aku fokus pada masalah itu saja, disamping mengerjakan tugas asistensi penelitian yang ku ikuti.

Dan sekarang, batu itu telah berhasil dipecahkan, parkiran telah merata. Program kerja KKN berpindah ke Perapian Taman, dan lagi disini aku memilih terpimpin saja, dan mengikuti kegiatan KKN itu dengan semampuku, secara aku sebenarnya tak suka bekerja tanpa perencanaan yang matang, sementara kawan-kawanku selalu memilih teknik bekerja dulu baru mikir.

So, perbedaan memang harus dihargai. Oleh karena itu aku mencoba menghargai semua tindakan kawan-kawanku dan tetap berpartisipasi dalam program KKN tersebut, tetapi maaf gak bisa 100%.


Sabtu, 13 September 2014

Pesugulan, Sebuah Kawasan di Kaki Gunung Rinjai

Menuju Perubahan : Generasi Muda Cerdas dan Kreatif.

Anak itu bernama Renita. Aku mengenalnya di salah satu sekolah yang menjadi lokasi PPL-KKN Kependdikan. Ya, aku adalah salah satu mahasiswa yang mengikuti program PPL-KKN itu, sebuah program yang dilaksanakan selama 3 bulan. 
SMA. Itu nama sekolah tempatku mengenal Renita, salah satu siswa kelas XI program IPS, program yang dilabelkan oleh kebanyakan orang sebagai program anti matematika, tetapi sayangnya sejak beberapa tahun ini matematika menjadi pelajaran wajib. Jadi, anak-anak yang tujuannya memilih IPS karena ketidakgemaran mereka belajar matematika tak bisa lagi menjadikan program IPS sebagai pelarian. 

"Anak IPA lebih pintar dari IPS. Apakah kalian pernah mendengar kalimat itu?" Tanyaku saat pertama kali berada di kelas XI IPS, berpraktik sebagai seorang guru.
"Ya bu!" Jawab mereka serentak.
"Apakah kalian suka mendengar itu?" Tanyaku lagi.
"Tidak bu!" Jawab mereka lagi secara serentak.
"Apakah kalian mau merubah hal tersebut menjadi IPS juga jago matematika?" 
"Ya, tentu saja!"

Lalu sebuah kesepakatan pun kami buat. Aku dan anak-anak XI IPS sepakat untuk melakukan perubahan, merubah label anak IPS bodoh matematika menjadi pintar matematika. Anak IPS yang semula diidentikkan dengan anak-anak yang nakal menjadi anak-anak yang baik dan beretika, dan sebagainya. Merubah label negatif menjadi label positif dan hingga akhirnya semua orang sepakat bahwa setiap anak sama, cerdas dan istimewa.

Aku pun secara pribadi tak pernah suka mendengar pembedaan anak-anak, mengatai anak satu lebih baik dari yang lain. Karena bagiku setiap adak itu istimewa dengan segala potensi yang mereka miliki. Mereka memang berbeda tetapi perbedaan itu bukan menjadi alasan melabelkan mereka dengan label positif dan negatif. Justru perbedaan itu seharusnya dirangkai dengan seindah mungkin. Dan untuk bisa merangkai itu dibutuhkan seniman kehidupan yang benar-benar memahani hidup dan melukisnya dengan kreatifitas tinggi.. Siapakah seniman itu? Para guru dan orang tua yang memberikan pendidikan terbaik bagi generasi muda.

Kembali berbicara tentang siswaku di XI IPS. Mereka berjumlah 41 orang dalam satu kelas, secara kuantitas itu seharusnya dijadikan 2 rombongan belajar. Namun, ketersediaan sarana menyebabkan jumlah itu menjadi satu. Efeknya apa? Kau bisa bayangkan kawan, kelas ribut dengan segala apresiasi yang ditunjukkan oleh mereka, siswaku.

Aku sebagai guru baru disana (baca: mahasiswa PPL) mencoba memahami mereka, dan mengapresiasi segala ekspresi yang mereka tunjukkan dengan menghilangkan rasa marah dan segala bentuk intimidasi yang menimbulkan ketakutan, dan memang aku tak bisa melakukan itu. Secara, walaupun mereka baru ku kenal, aku menyayangi mereka. Bagiku mereka adalah anak-anak yang sangat istimewa, ah seandainya saja mereka mau menyadari bagaimana istimewanya mereka lalu mau bersamaku mengukir karya.

Dari 41 orang itu, muncul beberapa orang yang memang ku identifikasi memiliki potensi untuk cepat belajar matematika. Renita, Lisa, Sopian, Risa, Diana, dan Rahma. Dari nama yang ku sebutkan itu, yang paling bersemangat untuk belajar matematika adalah Renita. Menyadari itu, aku pun mencoba memberikan perhatian lebih kepadanya dengan memberikan bimbingan matematika di luar kelas. Caranya, ia ku minta mengerjakan soal-soal latihan yang ada di buku teks matematika dan modul, serta ku ingatkan ia untuk tetap menjawab soal-soal latihan tanpa harus menunggu intruksi dariku. Alhamdulilah, hal itu ia laksanakan. Salah satu harapanku adalah teman-temannya mau mengikuti teknik belajar Renita kepadaku karena untuk memberikan bimbingan sejenis les matematika, waktu dan kondisi belum memungkinkan untuk itu.

Anak-anak XI IPS belajar matematika atau pelajaran yang lain bukan karena takut dengan nilai atau takut kena marah  gurunya tetapi mereka belajar karena mereka menyukainya dan merasa bahagia dengan apa yang mereka lakukan. Itu harapan terbesarku pada mereka. Dan memfasilitasi mereka untuk bisa seperti itu adalah salah satu bentuk perlawananku kepada para pendekar berwatak jahat yang ingin merusak generasi muda, yang ingin memperbodoh generasi muda untuk merampok kekayaan alam Indonesia. Para pendekar berwatak jahat yang teridentifikasi sebagai Imprealis.

Perubahan tidak bisa dilakukan satu kali dan berharap berhasil juga, tetapi perubahan harus selalu dilakukan secara berulang-ulang dan berkesinambungan, dan kabar gembiranya adalah perubahan akan selalu ada di setiap orang. 

Salam Perubahan!

Rabu, 10 September 2014

Menuju FGD

Asessment Tata Kelola Hutan segera menuju tahap FGD (Focus Group Discussion). Rencananya FGD itu akan dilaksanakan minggu ini, sehingga ketua tim peneliti kami mengintruksikan untuk menyelesaikan bahan FGD yang berupa pembuatan resume atas elemen kualitas dan temuan yang kami dapatkan di lapangan.

Dalam penelitian ini aku termasuk orang baru. Aku menyukai riset dan ini merupakan riset pertamaku dengan isu yang tak pernah ku duga sebelumnya, isu lingkungan : Tata Kelola Hutan. Padahal sebenarnya yang selalu ku bayangkan adalah aku menjadi peneliti di ruang laboratorium, berpakaian jas putih seperti yang sering ku lihat di film-film. Sebuah laboratorium yang dibatasi oleh dinding yang begitu kokoh. Tetapi mengapa sekarang laboratorium yang ku masuki sekarang adalah laboratorium kehidupan yang berisi orang-orang dengan beragam karakternya. Tentu Tuhan punya rencana terbaik untukku, dan aku tentu sangat bersyukur dengan semua itu, terlibat dalam sebuah penelitian.

Aku berusaha menyesuaikan diri dengan isu tersebut, perlahan meningkatkan kapasitas diri dengan memperbanyak referensi dan memperkuat keyakinan akan bantuan Tuhan, karena aku percaya bahwa tanpa pertolongan-Nya aku takkan mampu berbuat apa-apa. Dengan keyakinan penuh kepada-Nya dan dengan penuh keberanian dan percaya diri, ku jalani rangkaian demi rangkaian penelitian ini, dan alhamdullah sekarang sudah masuk ke tahap persiapan FGD. 

Semoga riset ini bisa ku selesaikan dengan baik, benar dan indah!

Lestari Hutanku

Mereka menyebutnya "Lang-Lang", orang yang bertugas menjaga hutan di Pulauku. Aku tak tahu apakah istilah tersebut juga di pakai di tempat lain di pulau ini, karena aku pun pertama kali mendengar istilah itu beberapa minggu yang lalu saat ikut penelitian di salah satu desa di pinggir hutan.

"Apakah Lang-Lang sudah bertugas dengan baik?" Itu adalah pertanyaan yang penting untuk diperhatikan mengingat bahwa hutan adalah sumber utama kehidupan di pulau ini. Air bisa lestari jika hutan lestari, begitu pula dengan sumber daya alam lainnya yang bisa dimanfaatkan untuk kelangsungan semua makhluk hidup di pulau ini. 

Masalah bertugas dengan baik atau tidak tentu semua kita sepakat bahwa mereka mencoba melaksanakan tugas dengan sebaik mungkin. Tetapi bagaimana kondisi di lapangan? Beberapa hari yang lalu aku mendengar cerita dari para penangkap burung di hutan kami (aku belum tahu apakah menangkap burung di hutan adalah tindakan terlarang atau tidak). Mereka bercerita tentang dua orang yang bertemu langlang di hutan, dan tentu saja bentrok antara petugas dan pemburu terjadi. petugas hutang yang dinamakan Lang-Lang tadi mencoba menodongkan senjata (orang yang bercerita menyebutnya pistol) kepada kedua orang pemburu. Siapapun tentu akan melakukan apapun yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkan diri, termasuk dua orang pemburu tadi. Mereka dengan penuh keberanian menantang Lang-Lang dengan mengacungkan golok yang dibawa. Entah karena ketakutan atau mengambil sikap bijak, kedua Lang-Lang itu menurunkan senjata, mengalah dan meminta maaf, dan tentu saja membiarkan pemburu pergi. 

Dari peristiwa di atas, yang perlu diperhatikan bukanlah sikap berani yang ditunjukkan pemburu atau sikap mengalah yang ditunjukkan oleh Lang-Lang, tetapi kelestarian hutan dan sumber daya alam yang terdapat di dalamnya. Jika melakukan penangkapan terhadap burung (satwa hutan) adalah suatu tindakan kriminal, mengapa masyarakat justru nekat melakukannya? Bukankah dia tahu bahwa ada sanksi hukum yang harus dia terima jika itu tetap dilakukan? Banyak kemungkinan yang menjadi penyebab dari tindakan masyarakat tersebut, antara lain sebagai berikut:

  1. Semakin sempitnya lapangan pekerjaan sementara barang kebutuhan hidup semakin meningkat yang diiringi oleh meroketnya harga-harga kebutuhan tersebut.
  2. Masyarakat kurang faham dengan dampak lingkungan yang akan terjadi jika perburuan tetap dilakukan.
  3. Kurangnya tingkat kesadaran masyarakat akan kelestarian hutan.
  4. Lemahnya penegakan hukum.

Solusi dari permasalahan adalaha suatu hal yang sangat diperlukan. Maka dari identifikasi permasalah diatas solusi yang bisa dilaksanakan untuk menjaga kelestarian hutan adalah sebagai berikut:

  1. Buat lapangan pekerjaan untuk masyarakat yang tinggal di kawasan hutan.
  2. Berikan pemahaman yang baik dan benar kepada masyarakat baik yang tinggal maupun yang tidak tinggal di kawasan hutan.
  3. Tegakkan hukum sebaik mungkin.
Sehingga dengan pelaksanaan solusi di atas di harapkan hutan tetap lestari termasuk semua sumber daya yang ada di dalamnya, dan yang lebih penting adalah hubungan masyarakat dengan aparat pemerintah tetap terjaga dengan baik, benar dan indah!

Kirana dan Elvita

Hari ini senyum dua perempuan kecil terlihat begitu indah di bawah sinar mentari pagi dengan sudut cahaya lebih kurang 40 derajat, dua buah senyuman yang tak ku sangka akan hadir pada wajah salah satunya yang hari sebenarnya dalam kondisi kurang sehat (menurut neneknya). Mereka menari, berlari, dan terjatuh dalam kesengajaan yang disertai dengan tawa yang begitu riang.

Ku perkenalkan nama kedua perempuan kecil itu adalah Kirana dan Evita (bukan nama sebenarnya). Sebaiknya kugunakan kata "gadis kecil" saja untuk menyebut anak-anak itu, anak-anak yang masih berusia kurang dari 5 tahun, anak-anak yang masih memandang dunia sebagai permainan dengan segala keasyikannya, anak-anak yang tak menyadari bahwa mereka sudah tak memiliki keluarga yang utuh, tetapi mereka masih bisa tertawa dengan begitu bahagia, ya namanya juga anak-anak!

Sadar akan masa depan mereka yang harus cemerlang, aku berfikir apa yang bisa kulakukan untuk anak-anak itu? Bingung!

Menyiapkan pendidikan terbaik untuk mereka, dan anak-anak lainya di pulau ini adalah suatu mimpi yang ku harap bisa terwujud, memberikan penyadaran kepada para orang tua agar bisa memahami mereka adalah niat yang entah kapan bisa ku laksanakan, dan banyak lagi mimpi-mimpi lainnya. Ah, Siapa kau? Mungkin orang akan bertanya seperti itu. Aku tak peduli dengan dengan semua komentar orang yang mungkin saja akan menyebutku gila dengan semua mimpi-mimpi itu. Dan sebenarnya aku bahagia disebut sebagai orang gila, bukankah orang-orang hebat di muka bumi ini seringkali dikatakan gila oleh mereka yang tak percaya akan segala kemungkinan yang ada dan orang-orang yang tak percaya akan kekuasaan Tuhan.

Bukankah Tuhan hanya tinggal mengatakan "Jadilah!" pada segala sesuatu yang ia kehendaki.
Maka "Jadilah ia"

Dan kau kawan, apa yang ingin kau lakukan untuk generasi muda?

Selasa, 09 September 2014

Pendidikan yang Baik dan Benar untuk Perempuan (Bagian 2)

Mengapa ilmu pengetahuan selalu menjadi milik sebagian besar laki-laki? Jika kau tak percaya Kawan, coba hitung berapa jumlah perempuan yang menjadi ilmuan, yang menjadi politikus, yang menjadi pemimpin, dan sebagainya? Ya, benar tetap saja ada pengecualian. Dimanakah perempuan menduduki peringkat no. 1 dari segi kuantitas?

Coba kau perhatikan kawan, dan kau boleh juga berhitung saat kau menonton televisi. Iklan-iklan banyak mempekerjakan perempuan, buruh pabrik, pembantu rumah tangga dan sebagainya. Ya, perempuan menjadi no. 1 di tempat-tempat seperti itu, dan menyedihkannya mereka senang dengan semua itu, dan kita yang sadar akan  dampaknya untuk perempuan serta generasi muda haruskah ikut bahagia hanya karena melihat perempuan kita terkenal dengan cara seperti itu.

Sudah saatnya kaum perempuan berada di tempa yang lebih baik, dan tentunya pendidikan adalah solusi terbaik untuk mewujudkannya. Sekarang memang perempuan sudah diberikan kesempatan berpolitik dengan kehadirannya dalam pesta demokrasi negeri ini masuk dalam kategori wajib, tetapi dengan kapasitas yang dimiliki oleh sebagian besar perempuan hari ini mampukah perempuan bersaing dengan laki-laki? Bisa saja, asal perempuan kita di didik dengan baik, tidak hanya diberi kesempatan untuk berpartisipasi tetapi berkompetisi merebut posisi dimana akhirnya dia mampu menyuarakan hak-hak kaumnya yang selama ini tak terpenuhi, terpolitisir, dan sebagainya. Sudah saatnya perempuan bangkit dari segala ketidakbenaran yang terjadi, dari ketidakadilan yang dialami, bukan untuk menunjukkan kehebatannya dan mengatakan bisa seperti lelaki tetapi agar kehidupan ini berimbang, tenang dan damai. Tak ada lagi klaim-klaim bahwa lelaki lebih baik dari perempuan, tak ada lagi pelabelan yang mengatakan bahwa perempuan berada di bawah kekuasaan lelaki, tetapi lelaki dan perempuan bisa berjalan berdampingan membangun negeri, membangun kehidupan yang adil dan lestari.


Pendidikan yang Baik dan Benar untuk Perempuan

Bukan salah lelaki yang beranggapan dan mengidentikan tugas perempuan adalah sumur, dapur dan kasur, karena itulah yang menjadi realita di kebanyakan tempat di muka bumi. Lalu perempuankah yang harus disalahkan atas hal tersebut? Bukan itu maksudku. Tak baik mencari siapa yang salah dan siapa yang benar. Tetapi tindakan tepat sebagai solusi agar perempuan tak lagi diidentikan dengan tiga hal tadi adalah suatu hal utama yang harus segera di upayakan.
Memberikan pendidikan yang baik dan benar kepada perempuan, memberikan pemahaman kepada mereka tentang siapa sebenarnya perempuan dan laki-laki, lalu peran mereka dalam kehidupan. Dan tentu perempuan membutuhkan forum itu agar pemahaman mereka tak setengah-setengah, hingga akhirnya "sumur, dapur, kasur" tak lagi diidentikkan dengan perempuan.

Semoga para perempuan di seluruh dunia segera sadar akan posisinya hari ini, dan segera membentuk komunitas-komunitas (forum) yang berbicara tentang perempuan serta hak dan kewajibannya dari semua sisi!

Jika ingin generasi muda tumbuh dengan cerdas, maka cerdaskan perempuan!